Review: Macbook Pro Retina Display 2017 dengan Touch Bar

Semasa kecil, interaksi saya dengan teknologi khususnya komputer bisa dibilang sedikit sekali. Kalaupun ada, bisa dipastikan itu adalah ketika saya berada di sekolah, mengikuti pelajaran lab komputer ataupun kegiatan ekstrakurikuler. Bagi keluarga kami, PC atau Laptop merupakan barang mewah. Jadi sebenarnya saya tidak pernah membayangkan akan mengikuti perkembangan teknologi apalagi sampai dengan menuliskannya seperti sekarang.

Sebelum berkutat dengan produk Apple, saya tersesat1 menggunakan Windows dan Android. Laptop pertama yang saya miliki bukanlah sebuah Mac. Melainkan laptop HP dengan Windows 7. Spesifikasinya pun tidak mengecewakan waktu itu. Kalau tidak salah ingat, saya membelinya di akhir tahun 2012. 4 bulan kemudian, saya memutuskan untuk menukarnya dengan MacBook White keluaran tahun 2006 dengan OS X Snow Leopard 10.6.8. Meski MacBook yang saya beli terbilang cukup tua di tahun 2012 namun saya langsung terkesan dibuatnya. Mulai dari build quality MacBook, kemudahan charging via MagSafe hingga tampilan antar muka OS X.

Baca selengkapnya

To Do, aplikasi to-do list baru dari Microsoft yang minimalis dan anti ribet

Microsoft baru saja merilis sebuah aplikasi pengelola daftar pekerjaan terbaru bernama To Do. Tersedia secara gratis di App Store dan masih pada versi Preview, Microsoft To Do digadang-gadang menjadi suksesor dari aplikasi Wunderlist yang telah diakuisisi oleh Microsoft pada tahun 2015 yang lalu. Apa saja fitur yang dibawa oleh aplikasi terbaru Microsoft ini? Mari kita bahas.

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, To Do disiapkan untuk menggantikan Wunderlist dan tak heran UI aplikasinya pun hampir mirip. Ada tombol garis 3 di kiri atas untuk mengakses profil serta membuat List baru. Kamu bisa membuat bermacam List sesuai dengan kebutuhan. Untuk menambahkan daftar pekerjaan, tinggal tap pada List lalu tap Add to do di bagian bawah. Agar tak lupa, kamu bisa menambahkan pengingat, due date ataupun catatan mengenai pekerjaan yang perlu kamu lakukan tersebut.

Sedikit berbeda dengan metode GTD, Microsoft To Do memiliki sebuah daftar berjudul My Day dimana kamu bisa menambahkan hal-hal yang ingin kamu kerjakan pada hari itu. Saran saya, tak perlu terlalu banyak menambahkan pekerjaan ke dalam daftar My Day, cukup 3-4 saja. Jika sudah terbiasa dan dapat menyelesaikannya setiap hari, barulah tambahkan lagi pekerjaan yang lain.

Microsoft baru saja merilis sebuah aplikasi pengelola daftar pekerjaan terbaru bernama To Do

Jika bingung, kamu bisa menambahkan fitur Suggestions yang dapat dengan pintar memilihkan mana pekerjaan yang perlu didahulukan untuk masuk ke daftar My Day.

[clickToTweet tweet=”To Do dari Microsoft adalah aplikasi to-do list yang minimalis dan anti ribet! Yuk, cobain!” quote=”To Do dari Microsoft adalah aplikasi to-do list yang minimalis dan anti ribet! Yuk, cobain!” theme=”style3″]

Untuk masalah tampilan, meski minimalis, To Do dirancang dengan sangat cantik. Kamu bisa mengkustomisasi setiap List dengan tampilan yang berbeda. Saat ini To Do hadir di iPhone, Android, Windows dan Web. Versi iPad dan Mac masih dalam tahap pengembangan.

Saya sudah mencoba To Do dan ketika menggunakannya, aplikasi tersebut crash beberapa kali. Kalau kamu mencobanya dan menemukan bug serupa, kamu bisa melaporkannya ke Microsoft lewat pop-up yang muncul. Mungkin karena masih dalam tahap preview jadi aplikasinya pun belum terlalu stabil.

Apabila kamu membutuhkan aplikasi untuk membikin daftar tugas atau pekerjaan harian dengan tampilan yang minimalis dan ngga ribet, silakan coba To Do dari Microsoft.

Linky, aplikasi yang mempermudah berbagi status ke Twitter dan Facebook secara sekaligus

“Ketik 1 dan lihat apa yang terjadi. Sebarkan!”, “Bagikan, jangan berhenti di kamu!”, “Retweet! Sebarkan!”. Kalau kamu mengamati media sosial akhir-akhir ini pasti akan menemui banyak sekali ajakan untuk membagikan tautan yang ada di Facebook atau Twitter. Namun bukan hal tersebut yang akan saya bahas kali ini. Melainkan sebuah aplikasi di iPhone dan iPad bernama Linky. Linky berguna bagi kamu yang ingin membagikan status Twitter dan Facebook secara bersamaan.

Baca selengkapnya

[Review] Squash – Permudah optimalkan gambar untuk website

Ketika membuat sebuah postingan blog tips dan trik, ada beberapa hal yang perlu saya perhatikan. Salah satunya adalah gambar yang ingin saya masukkan. Selain harus runut dan mudah untuk diikuti, ukuran gambar juga menjadi salah satu pertimbangan. Idealnya, gambar yang ingin saya masukkan harus berkualitas baik tetapi dengan ukuran yang relatif kecil atau yang sudah dioptimasi.

Keuntungan dari gambar yang sudah dioptimasi untuk web adalah dapat membantu mempercepat loading serta menghemat data internet untuk memuatnya. Beberapa aplikasi pengolah gambar seperti Pixelmator dan Photoshop sebenarnya sudah mendukung fitur untuk mengekspor gambar ke dalam format yang ramah untuk digunakan dalam website. Namun dalam praktiknya, menggunakan aplikasi pengolah gambar hanya untuk mengoptimalkan ukuran kurang praktis dan merepotkan. Realmac Software, pengembang dari aplikasi Clear, Typed dan RapidWeaver menawarkan solusi dengan sebuah aplikasi bernama Squash.

Dari namanya saja sudah tergambar apa kegunaan dari aplikasi ini. Ya, Squash dapat mengompres ukuran gambar namun tidak mengurangi kualitasnya. Antar muka aplikasinya pun sederhana. Hanya ada tombol gir untuk masuk ke pengaturan.

[Review] Squash - Permudah optimalkan gambar untuk website
Tampilan utama Squash
Menggunakan Squash juga sangat mudah, kamu tinggal tarik gambar yang ingin dikompres ke dalam Squash dan tunggu sampai prosesnya selesai. Selanjutnya tinggal tekan tombol Save Images untuk menyimpan gambar-gambar tersebut. Praktis bukan?
[Review] Squash - Permudah optimalkan gambar untuk website
Pengaturan Squash
Pengaturan aplikasi Squash pun juga sangat sederhana. Terdapat pengaturan kompresi file PNG, kualitas file JPG yang dihasilkan, tempat menyimpan file dan nama tambahan untuk gambar yang sudah dioptimalkan. Penasaran dengan hasil kerja Squash? Saya mengunduh beberapa gambar dari Unsplash dan mencobanya di Squash. Perbandingan ukurannya bisa kamu lihat pada tabel di bawah:
Gambar Ukuran sebelum dikompres Ukuran sesudah dikompres
Unsplash 1 5.4MB 4.8MB
Unsplash 2 1.1MB 993KB
Unsplash 3 1.9MB 1.5MB
Unsplash 4 1.5MB 1.2MB

 

Selain melakukan kompresi gambar, Unsplash juga dapat secara otomatis mengkonversi format PSD, TIFF dan RAW menjadi JPG. Lebih praktis dibanding menggunakan aplikasi pengolah gambar.

Squash permudah optimalkan gambar untuk web

Saya sangat menyukai kemudahan dan kesederhanaan Squash dalam mengoptimalkan gambar. Meski ukuran gambar hasil kompresi tidak sekecil yang dihasilkan oleh ImageOptim, namun saya sangat menyukai kecepatan serta tampilannya yang minimalis. Kalau kamu tertarik untuk memiliki Squash, ada baiknya bergegas karena selama masa launching dan Black Friday, Squash didiskon 60% menjadi $8 atau Rp 119ribu di App Store dari harga normal $19.99.

Kumpulan review Macbook Pro 2016 dengan Touch Bar

Bulan lalu Apple merilis 3 model Macbook Pro baru. Dua diantaranya memiliki Touch Bar yaitu sebuah layar retina display multi touch yang menggantikan barisan tombol Fn. Touch Bar dapat menampilkan beragam fungsi tombol tergantung dari jendela aplikasi yang sedang aktif.

Beberapa media mendapat kesempatan untuk mencoba Macbook Pro 2016 dengan Touch Bar. Mari kita simak beberapa review Macbook Pro 2016 dengan Touch Bar.

Baca selengkapnya

Ulysses, teks editor minimalis dengan segudang fitur

Sejak menjadi penulis lepas untuk salah satu media teknologi dua tahun yang lalu saya telah mencoba berbagai macam text editor. Tak hanya di iPhone dan iPad saya pun mencoba bermacam text editor di Mac hingga PC hingga akhirnya saya memilih Sublime Text. Sublime Text unggul pada fitur kustomisasi dengan beragam plugins serta tema dan tersedia di hampir seluruh sistem operasi desktop. Sublime Text dengan plugins Markdown Editing adalah pilihan saya untuk menulis di PC.

Editorial, 1Writer, Drafts, dan iA Writer adalah beberapa text editor yang pernah saya gunakan di iOS. Semuanya memiliki keunggulan masing-masing. Editorial, 1Writer dan Drafts unggul pada fitur automation sedangkan iA Writer memberikan pengalaman menulis yang menyenangkan didukung dengan font dan tampilan yang cantik. Lalu hadirlah update untuk Ulysses yang menjadi aplikasi universal dan dapat digunakan baik di iPhone atau iPad. Kehadiran update Ulysses di iPhone mendapat banyak pujian dan review positif dari para blogger seperti Federico Viticci dan Chartier. Ulysses bukan hanya ditujukan untuk para blogger namun dapat juga digunakan untuk menulis novel, script hingga paper bagi akademisi.

Penasaran seperti apa Ulysses, saya pun langsung mengunduh dan mencobanya. Ulysses menawarkan pengalaman berbeda dari beberapa text editor yang pernah saya gunakan. Menurut saya, Ulysses adalah text editor yang tak hanya kaya fitur namun juga cantik dan menyenangkan untuk digunakan. Setelah beberapa minggu menulis menggunakan Ulysses, saya mulai menyukainya. Perlu sedikit penyesuaian ketika menulis dengan menggunakan Ulysses namun setelah terbiasa, sulit rasanya kembali menulis dengan cara yang lama. 5 alasan inilah yang membuat saya menyukai Ulysses and I think you’ll love it too1.

Penuh Kustomisasi

Baik di iPhone, iPad dan Mac memiliki dark mode sehingga menulis di malam hari lebih nyaman. Kamu juga bisa mengkustomisasi bagian editor tempat di mana kamu menulis di Ulysses dengan warna-warna favorit kamu sehingga menulis terasa lebih menyenangkan. Kalau tak ingin repot mengkustomisasi warna serta markup di text editor, Ulysses telah menyediakan sebuah laman Ulysses Style Exchange tempat pengguna bisa saling berbagi tema yang digunakan.

Ulysses, teks editor minimalis dengan segudang fitur
Pengaturan kustomisasi di Ulysses

Ingin mengganti font? Bisa. Ulysses menyediakan beberapa font untuk kamu pergunakan. Jika terasa kurang, kamu bisa menginstall font tambahan dari Dropbox ataupun iCloud Drive. Spacing dan ukuran font juga bisa kamu atur di Ulysses.

File Managements

Pada Ulysses, kita menyebut files tulisan sebagai sheets. Sheets tersebut dapat diorganisir sesuai dengan keinginan kita. Kita bisa memecah sebuah tulisan menjadi beberapa sheets lalu menggabungkannya lagi. Fitur yang cukup berguna bagi kamu yang memperlukan fokus lebih untuk beberapa bagian tulisan yang sedang kamu kerjakan. Ulysses secara otomatis menyimpan tulisan. Terdapat fitur backup juga sehingga kamu tak perlu khawatir kehilangan tulisan yang sedang dikerjakan.

iCloud Drive baru menjadi satu-satunya opsi pilihan untuk menyimpan tulisan. Keuntungannya adalah kamu bisa mengaksesnya dengan mudah di iPhone, iPad atau Mac. Sinkronisasi iCloud Drive pun cukup cepat. Lalu bagaimana jika kita menyimpan tulisan di Dropbox? Jangan khawatir karena Ulysses sedang mempersiapkan update yang membawa dukungan penyimpanan eksternal seperti Dropbox yang sedang dalam tahap beta dan akan dirilis tak lama lagi.

Ulysses menyediakan keyword sebagai salah satu cara organisir file tulisan. Dengan keyword kamu bisa lebih mencari file lebih cepat. Lebih lagi, Ulysses juga dapat menyimpan attachment seperti catatan, gambar, PDF yang dapat digunakan untuk membantumu dalam menulis.

Plain Text Enhanced

Ulysses mengenalkan plain text enhanced dengan Markdown XL sebagai sintaks utama yang merupakan cabang dari Markdown milik John Gruber. Untuk mempermudah formatting tulisan, terdapat tiga tombol shortcut di atas keyboard untuk mempercepat penulisan. Membuat heading, italic, bold hingga menambahkan footnote bisa dengan mudah menggunakan custom keyboard shortcut yang telah disediakan.

Ulysses, teks editor minimalis dengan segudang fitur
Ulysses keyboard dengan sejumlah opsi formatting

Menyisipkan link di Ulysses sedikit berbeda. Jika di Markdown link dapat ditulis dengan syntax sebagai berikut [tulisan yang ingin ditambahkan link](http://link-atau-url) maka di Ulysses terdapat sebuah pop-up URL dan Title yang harus diisi. Tulisan yang diberi link kemudian akan di highlight. Lebih rapi dan enak untuk dibaca. Sama halnya dengan menambahkan footnote, terdapat pop-up, isi footnote and that’s it! Mudah bukan?2

Ulysses, teks editor minimalis dengan segudang fitur
Menyisipkan link di sebuah kata atau kalimat di Ulysses
Ulysses, teks editor minimalis dengan segudang fitur
Menyisipkan catatan kaki pada tulisan di Ulysses

Salah satu favorit saya adalah annotations yang tersedia di Ulysses yang tidak dimiliki oleh text editor lain. Pada dasarnya annotations memungkinkan kita memiliki sebuah catatan dari sebuah kalimat atau paragraf.

Keyboard Shortcut

Jika kamu menggunakan keyboard external di iPad, Ulysses sudah mendapatkan dukungan keyboard shortcut yang bisa membuatmu bekerja lebih cepat. Keyboard shortcut ini bisa kamu lihat dengan tap dan hold pada tombol Command ketika menggunakan Ulysses. Atau selengkapnya bisa kamu lihat seperti pada cheatsheet di bawah ini.

Ulysses, teks editor minimalis dengan segudang fitur

Export Options

Tulisan yang kamu buat di Ulysses dapat diexport ke beberapa format seperti HTML, PDF, ePub hingga file Word. Selain pilihan export yang beragam dan kamu bisa mengkustomisasi hasil exportnya dengan tema tertentu, Ulysses juga sudah mendukung untuk mengunggah tulisan ke Medium. Ke depannya Soulmen sang pengembang Ulysses akan menambahkan fitur publishing ke WordPress yang kini sedang diuji pada tahap beta berbarengan dengan fitur external files dari Dropbox.

Saya sedang mencoba ke dua versi Ulysses baik Mac dan iOS dan kedua fitur tambahan tersebut benar-benar membuat saya menyukai Ulysses, saya tak perlu lagi copy paste dari text editor ke WordPress. Cukup publish dari Ulysses.

Kesimpulan

Ulysses bukan satu-satunya aplikasi pengolah teks yang ada di App Store. Terdapat beragam aplikasi pengolah teks dan banyak pula yang bisa digunakan secara gratis. Namun dengan fitur yang dibawa serta beragam kustomisasi, Ulysses adalah pilihan saya untuk menulis tugas-tugas kuliah, catatan pekerjaan hingga artikel di blog. Ulysses menggabungkan text editor minimalis dengan segudang fitur dan mengedepankan konsep yang berfokus pada konten tulisan. Try it and you’ll love it.

Happy writing!

Download – Ulysses – Rp 359ribu

  1. You should really give it a try, I mean it.
  2. Fokus pada konten yang sedang kamu kerjakan adalah tujuan utama Ulysses. Oleh sebab itulah footnote dan sisipan link di tulisan dibuat semudah dan sesederhana mungkin tanpa harus memikirkan formatting seperti pada sintaks Markdown asli.