Melihat 5 tahun Tim Cook memimpin Apple dalam grafik

Jan Dawson:

This week marks the fifth anniversary of Tim Cook’s appointment as permanent CEO at Apple—he was appointed CEO on August 24th, 2011. As a result, we’ll no doubt see quite a few retrospectives this week looking back over his time at Apple, and evaluating his tenure. As context for that analysis, I wanted to share some numbers about Apple in the quarter and year before he took over, and compare it with numbers for the quarter and year ending in June of this year.

87% dari total iPhone dan 90% dari iPad yang terjual hingga sekarang berada di era kepemimpinan Tim Cook. Tim Cook jugalah yang memastikan ketersediaan akan kedua perangkat tersebut berbanding lurus dengan permintaan pasar. Apple di bawah Tim Cook mengalami peningkatan keuntungan hingga dua kali lipat menjadi $200 milyar meski beberapa kuartal terakhir sempat menurun.

Keuntungan dari layanan yang digelar juga mengalami peningkatan di era Tim Cook. App Store dan Apple Music menjadi penyumbang terbesarnya. Apple TV sudah pasti menjadi sasaran Apple untuk menggelar layanan baru berikutnya. Layanan online streaming TV? Bisa saja.

Satu hal yang menarik dari data-data yang disampaikan adalah adanya peningkatan biaya yang dikeluarkan untuk Research and Development (R&D). Tidak hanya dalam jumlah dollarnya saja tetapi juga persen terhadap keuntungan yang diperoleh. Biaya R&D yang dihabiskan oleh Apple semasa Tim Cook naik menjadi 4% dari keuntungan dibandingkan dengan 2% sebelum kepemimpinannya.

Meski demikian, data yang tidak pernah dipaparkan oleh Apple adalah tentang keuntungan dan penjualan dari Apple Watch. Perangkat pertama yang dirilis semasa Tim Cook. Hal tersebut karena Apple tidak mengkategorikannya tersendiri seperti iPhone, iPad dan Mac. Apple menggabungkan Apple Watch ke dalam kategori Other bersamaan dengan iPod dan aksesoris lainnya.

Data yang menarik untuk dicermati tentang bagaimana performa Apple di bawah kendali Tim Cook. Mungkin perubahan Apple terbesar bukan dari penjualan dan keuntungan yang diperolehnya tetapi bagaimana Apple lebih terbuka terkait masalah sosial dan lingkungan namun tetap menjaga kerahasiaan pengembangan yang dilakukannya.

Melihat teknologi AI dan Machine Learning di Apple


Steven Levy, menulis di Backchannel tentang bagaimana teknologi AI dan machine learning bekerja di Apple. Disebut-sebut ketinggalan dengan Google dan Microsoft dalam pengembangan teknologi AI dan machine learning, nyatanya Apple sudah lama menggunakan teknologi machine learning untuk memberikan prediksi serta rekomendasi yang dibutuhkan oleh pengguna perangkatnya. Ya, teknologi tersebut ada di iPhone, iPad dan Mac yang kamu gunakan sekarang ini.

If you’re an iPhone user, you’ve come across Apple’s AI, and not just in Siri’s improved acumen in figuring out what you ask of her. You see it when the phone identifies a caller who isn’t in your contact list (but did email you recently). Or when you swipe on your screen to get a shortlist of the apps that you are most likely to open next. Or when you get a reminder of an appointment that you never got around to putting into your calendar. Or when a map location pops up for the hotel you’ve reserved, before you type it in. Or when the phone points you to where you parked your car, even though you never asked it to. These are all techniques either made possible or greatly enhanced by Apple’s adoption of deep learning and neural nets.

Yes, there is an “Apple brain” — it’s already inside your iPhone.

Mengembangkan teknologi AI dan machine learning yang mengerti kebutuhan pengguna bukan perkara mudah. Dibutuhkan data dengan jumlah yang sangat banyak1 untuk dapat mengetahui pola penggunaan yang kemudian dapat digunakan untuk memberikan rekomendasi. Tantangan terbesar Apple dalam pengembangan justru datang dari prinsip mereka yang fokus pada keamanan data pengguna.

Probably the biggest issue in Apple’s adoption of machine learning is how the company can succeed while sticking to its principles on user privacy. The company encrypts user information so that no one, not even Apple’s lawyers, can read it (nor can the FBI, even with a warrant). And it boasts about not collecting user information for advertising purposes.

While admirable from a user perspective, Apple’s rigor on this issue has not been helpful in luring top AI talent to the company. “Machine learning experts, all they want is data,” says a former Apple employee now working for an AI-centric company. “But by its privacy stance, Apple basically puts one hand behind your back. You can argue whether it’s the right thing to do or not, but it’s given Apple a reputation for not being real hardcore AI folks.”


Dengan iOS 10, Apple mengenalkan teknologi baru bernama Differential Privacy. Teknologi machine learning yang berusaha menganalisa sebuah pola tanpa menggunakan data-data atau informasi sensitif dari sebuah individu. Seperti yang dijelaskan oleh Craig Federighi:

“We started working on it years ago, and have done really interesting work that is practical at scale,” explains Federighi. “And it’s pretty crazy how private it is.” (He then describes a system that involves virtual coin-tossing and cryptographic protocols that I barely could follow — and I wrote a book about cryptography. Basically it’s about adding mathematical noise to certain pieces of data so that Apple can detect usage patterns without identifying individual users.)

Terkadang inovasi bukan sekedar fitur baru. Prediksi kata yang semakin akurat ketika mengetik, Apps suggestion di Spotlight yang semakin tepat, Siri yang semakin cerdas dan mengerti konteks perintah adalah inovasi juga. Dengan iOS 10 nantinya, setiap perangkat iPhone atau iPad akan semakin pintar berkat bantuan teknologi machine learning. Dikomputasi pada jutaan perangkat yang tersebar di seluruh dunia, bukan server milik Apple.


  1. Dan bukan tidak mungkin termasuk data-data pribadi yang bersifat sensitif.