30 Aplikasi iPhone terbaik di 2018

Tahun 2018 sebentar lagi usai. Melihat satu tahun ke belakang, pastinya ada banyak momen untuk dikenang. Begitu pula dengan teknologi.  Pastinya ada perubahan (update) yang terus dihadirkan untuk mempermudah penggunanya dalam melaksanakan pekerjaan.

Menutup tahun 2018, sekaligus sebagai tulisan terakhir di blog tahun ini, ada daftar aplikasi iPhone terbaik yang saya gunakan sehari-hari. Meski berjudul aplikasi iPhone, kamu juga bisa gunakan aplikasi-aplikasi berikut untuk iPad kok. Toh sekarang kebanyakan aplikasi sudah bersifat universal dan bisa dipakai di perangkat iOS apapun.

Harapan saya, semoga di tahun 2019, semakin banyak aplikasi baru atau update aplikasi yang lebih mempermudah hidup kita.

Baca selengkapnya

Todoist, aplikasi yang bermanfaat untuk kelola daftar pekerjaan

Memiliki pekerjaan utama sambil kuliah dan masih menulis freelance tentu ada banyak hal yang harus saya kerjakan. Apabila tidak diorgansir dengan baik, yang ada pasti kekacauan. Untungnya sekarang banyak sekali aplikasi to-do list yang bisa digunakan. Semuanya menawarkan tujuan yang sama, membantu mengelola serta mengorganisir daftar pekerjaan. Saya pribadi sudah sering bergonta-ganti aplikasi to do list untuk mencari yang mana yang paling pas dengan alur kerja saya. Berhubung saya sehari-hari di kantor menggunakan Windows, mau tak mau kriteria pertama adalah tersedia di beragam platform atau at least bisa diakses melalui web browser.

Wunderlist dan Todoist adalah dua layanan atau aplikasi rekomendasi yang paling sering muncul ketika saya melakukan pencarian di internet. Berhubung Wunderlist sendiri hendak dihentikan oleh Microsoft dan digantikan dengan To Do, maka pilihan saya sudah pasti jatuh ke Todoist. Lalu, apa itu Todoist dan apa saja fiturnya? Mari kita bahas.

Todoist adalah sebuah layanan pengelola daftar pekerjaan (task manager) yang diluncurkan oleh Amir Salifehendic pada tahun 2007 dan kini sudah memiliki lebih dari 5 juta pengguna. Todoist bisa diakses melalui browser dan aplikasinya juga tersedia di beragam sistem operasi, Windows, Chrome, macOS dan bahkan sebagai browser extensions. Hal ini sangat mempermudah sekali untuk melihat tugas apa yang harus diselesaikan. Freemium menjadi model bisnis Todoist. Layanannya bisa digunakan secara gratis, tetapi untuk dapat menikmati fiturnya secara lengkap, kamu harus membayar biaya berlangganan sebesar $28.99 pertahun.

Tampilan yang sederhana, mudah dipahami dan digunakan

Memberikan pengalaman pengguna yang baik ketika layanan yang dimiliki tersedia di berbagai platfom bukan soal yang mudah. Namun tidak bagi Todoist. Tampilannya konsisten, mudah dipahami dan digunakan. Setidaknya itu pengalaman yang saya dapat ketika menggunakan Todoist di Windows, macOS dan iOS (iPhone dan iPad).

Ada 4 bagian utama di Todoist:

  • Inbox
  • Today
  • Next 7 days
  • Tab Projects, Labels dan Filters

Pada bagian bawah di iPhone dan iPad, terdapat sebuah tombol dengan simbol + untuk membuat entri pekerjaan baru. Biasanya, saya mengkategorikan daftar pekerjaan yang saya miliki ke dalam Projects. Kamu juga bisa menambahkan due date serta reminders untuk memunculkan notifikasi.

Todoist, aplikasi yang bermanfaat untuk kelola daftar pekerjaan
Tampilan Todoist di iPhone

Daftar tugas yang kamu miliki ditampilkan dengan rapi oleh Todoist. Terdapat sebuah titik berwarna sebagai penanda Projects, begitu pula Labels.

Memiliki fitur natural language untuk mempermudah pengelolaan daftar tugas

Bagi penganut metode produktivitas GTD pasti sudah paham bahwa ada langkah clarify setelah memasukkan daftar pekerjaan pada sebuah sistem tertentu. Begitu pula ketika menggunakan Todoist. Saya mengkategorikan daftar kerja ke dalam sebuah Projects di Todoist. Jika saya perlu menyelesaikannya sebelum tenggat waktu tertentu, tinggal tambahkan due date atau reminders.

Karena Todoist memiliki fitur natural language, menambahkan hingga mengelola daftar pekerjaan menjadi sangat mudah. Saya cukup tap pada tombol + di Todoist dan ketik

Post Todoist review on Tue 2pm #blogging @unappologetic

yang akan secara otomatis tersimpan di projects bernama Blogging dengan label unappologetic serta memiliki due date hari Selasa pukul 14.00.

Apabila kamu memiliki pekerjaan yang rutin dilakukan dalam rentang waktu tertentu, fitur natural language di Todoist juga dengan mudah menerjemahkannya, berikut beberapa contohnya:

Pick up laundry every Sat at 8pm #personal

Todoist akan membuat sebuah daftar kerjaan Pick up laundry dengan due date tiap hari sabtu jam 20.00 di Projects Personal. Contoh yang lebih kompleks lagi:

Attend LIA course every tue and fri start 1 jun to 31 sept #personal @courses

yang akan tersimpan di Todoist sebagai Attend LIA Course dengan notifikasi pengingat tiap hari kamis dan jumat setiap jam 7 malam dan dimulai dari tanggal 1 Juni hingga 31 September di Projects Personal dengan label courses.

Kamu bisa pelajari selengkapnya mengenai dukungan natural language Todoist di tautan berikut.

Selain natural language, Todoist juga memiliki fitur Smart Schedule dengan bantuan teknologi AI. Smart Schedule akan memilihkan waktu yang tepat untuk setiap daftar pekerjaan yang sudah melewati due date. Tentu dengan menganalisa terlebih dahulu seberapa padat jadwal kerjamu lewat daftar yang tersimpan. Untuk menggunakannya, kamu tinggal tekan pada tombol Reschedule yang akan muncul pada bagian pojok kanan atas dari deretan daftar pekerjaan yang sudah overdue.

Miliki fitur kolaborasi, mendukung penambahan attachments hingga komentar

Todoist juga bisa digunakan untuk mengelola pekerjaan pada sebuah tim berkat fitur kolaborasi. Kamu bisa mengundang teman dan berbagi daftar pekerjaan pada sebuah projects, menambahkan attachments hingga berdiskusi lewat kolom komentar yang disediakan.

Ya, mengelola daftar pekerjaan dalam sebuah tim menjadi jauh lebih mudah karena beragam fitur yang dibutuhkan ada di satu tempat.

Dapat terintegrasi dengan layanan otomasi lainnya dengan mudah

Salah satu alasan lain mengapa saya memilih Todoist adalah layanan ini dapat diintegrasikan dengan mudah. Contoh paling gampangnya adalah integrasi dengan layanan web automation seperti IFTTT atau Zapier. Banyak applet-pada IFTTT dan zap-pada Zapier yang siap untuk digunakan. Berikut beberapa contohnya:

Todoist, aplikasi yang bermanfaat untuk kelola daftar pekerjaan

Selain integrasi dengan layanan web, aplikasi Todoist di iOS juga dilengkapi skema url. Dengan memanfaatkan skema url, Todoist bisa diakses lebih mudah oleh aplikasi lain semacam Drafts, Launch Center Pro, Workflow dan masih banyak lagi.

Share extensions dan Today Widget

Todoist, aplikasi yang bermanfaat untuk kelola daftar pekerjaan
Fitur natural language juga bisa digunakan ketika di share extensions

Layaknya aplikasi lain, Todoist memiliki share extensions dan today widget di Notifications Center. Share extensions bermanfaat untuk menambahkan entri baik dari Safari ataupun aplikasi lain. Jika diaktifkan dari Safari, Todoist akan langsung menggunakan nama tab dan tautan sebagai nama entri yang bisa di-tap.

Sedangkan pada Today Widget, kamu bisa mengetahui informasi pekerjaan apa saja yang harus diselesaikan pada hari tersebut. Kamu juga bisa membuka Todoist ataupun menambah entri daftar dari tombol Add Task.

Todoist membuat pengelolaan daftar pekerjaan menjadi lebih mudah

Beragam aplikasi to-do list sudah pernah saya coba. Mulai dari yang tersedia hanya di platform sistem operasi milik Apple, seperti OmniFocus atau Things, hingga yang berbasis web seperti Trello atau Wunderlist. Namun pada akhirnya saya tetap kembali menggunakan Todoist. Pertama, Todoist tersedia di hampir semua sistem operasi membuatnya mudah diakses dan kedua, fitur natural language-nya membuat langkah mengorganisir daftar yang tersimpan di Todoist menjadi lebih mudah. Jadi, kamu pakai aplikasi to-do list apa?

Elk, aplikasi yang mempermudah konversi kurs mata uang ketika travelling

Mendapatkan informasi nilai tukar antar mata uang kini tak lagi susah. Asal punya internet, maka persoalan tersebut akan beres. Apalagi kini sudah banyak aplikasi baik di Android atau iOS yang menyediakan fitur tersebut. Baik yang gratis atau berbayar. Pada tulisan kali ini saya akan membahas sebuah aplikasi untuk mengkonversi mata uang yang tersedia untuk iPhone dan Apple Watch bernama Elk.

Elk ditujukan untuk mempermudah pengguna melakukan konversi mata uang secara cepat. Pada aplikasi versi Apple Watch, kamu dapat langsung mengubah angka yang berwarna orange dengan memutar Digital Crown. Jadi semisal kamu melakukan konversi dari USD ke IDR, angka berwarna orange adalah nilai USD yang ingin diubah menjadi Rupiah. Untuk menambahkan atau mengurangi puluhan, kamu bisa swipe ke kiri atau ke kanan. Bagian Settings di Apple Watch bisa kamu akses dengan tombol bergambar gir. Dari situ kamu bisa mengatur mata uang apa yang hendak dikonversi.

Elk, aplikasi yang mempermudah konversi kurs mata uang ketika travelling

Menggunakan Elk di iPhone pun tak jauh beda dengan yang di Apple Watch. Tak ada tombol di tampilan utamanya. Hanya deretan angka. Swipe ke kiri atau ke kanan juga berfungsi untuk menambah atau mengurangi puluhan persis seperti aplikasi versi Apple Watch. Elk secara default menampilkan urutan angka 1, 2, 3, dst. Untuk mengkonversi 1.50, kamu perlu tap pada angka 1 yang selanjutnya akan muncul deretan angka baru dari 1.10 sampai dengan 1.90.

Salah satu kelebihan dari Elk adalah hasil konversi ditampilkan secara otomatis. Rate yang digunakan pun tersinkronisasi dengan cepat antara iPhone dengan Apple Watch. Jangan khawatir, Elk selalu menyediakan rate terupdate via background refresh di iPhone. Nah, apabila kurs yang digunakan oleh Elk tak sesuai dengan yang kamu inginkan, atau kamu ingin menggunakan custom rate, tinggal masukan jumlahnya yang ada pada pengaturan yang ada di iPhone.

Salah satu kekurangan Elk adalah meski Elk bisa membantumu untuk melakukan konversi antar mata uang secara cepat, tetapi belum tersedia pilihan untuk melakukan konversi angka pecahan yang lebih terperinci seperti 2,32.

Aplikasi Elk bisa kamu gunakan secara gratis namun kalau kamu ingin kurs mata uang secara lengkap serta fitur untuk mengatur custom rate, ada in-app-purchase sebesar Rp 75ribu yang harus dibayar. Sebelum memutuskan untuk membayar, Elk menyediakan free trial selama dua minggu lho.

  • Download – App Store – Gratis, dengan in-app-purchase Rp 75ribu

3 Aplikasi iOS pilihan untuk menambahkan anotasi

Penambahan anotasi pada gambar, foto atau file PDF biasanya dibuat untuk memperjelas maksud dan tujuan sang pembuat. Sekarang, untuk menambahkan anotasi tak perlu menggunakan aplikasi desktop. Banyak aplikasi mobil yang menyediakan fungsionalitas serupa. Tak terkecuali di platform iOS.

Aplikasi penambah anotasi penting bagi saya. Terlebih untuk mendukung penulisan tips dan trik seperti yang saya lakukan di blog ini, The App Factor dan DailySocial . Kalau kamu membutuhkan rekomendasi tentang aplikasi untuk menambahkan anotasi di screenshot atau gambar, saya sudah pilihkan 3 yang terbaik. Apa saja? Mari kita bahas satu persatu.

PointOut

3 Aplikasi iOS pilihan untuk menambahkan anotasi

PointOut merupakan rekomendasi saya yang paling pertama. Apabila kamu pembaca setia UNAPPOLOGETIC dan menemukan screenshot dengan lingkaran mirip kaca pembesar itu adalah anotasi dari PointOut. Selain menyediakan beberapa bentuk anotasi seperti panah dan kaca pembesar, kamu juga dapat mengkustomisasinya seperti mengganti warna, besar kecil serta jumlahnya. PointOut juga memiliki fitur untuk membuat layout dari template yang sudah disediakan. Agar lebih jelasnya, silakan kunjungi galeri foto yang sudah diedit dengan PointOut di sini. PointOut bisa digunakan secara gratis namun kamu perlu membayar dengan in-app-purchase apabila ingin menghilangkan watermark di hasil foto setelah diedit.

Download – App Store – Gratis

Pinpoint

3 Aplikasi iOS pilihan untuk menambahkan anotasi

PinPoint menyediakan beberapa tools yang pada umumnya terdapat dalam aplikasi penambah anotasi. Dengan PinPoint kamu bisa menambahkan panah, tulisan atau kotak untuk memperjelas maksud yang ingin disampaikan. Terdapat juga fitur blur untuk menutupi detail penting yang tak ingin dibagikan. Meski dapat digunakan secara gratis, terdapat in-app purchase yang bisa kamu gunakan untuk mengganti warna dari anotasi yang ditambahkan.

Download – App Store – Gratis

Annotable

3 Aplikasi iOS pilihan untuk menambahkan anotasi

Evernote pernah mempunyai sebuah aplikasi untuk menambahkan aplikasi bernama Skitch. Sayangnya, Skitch kini sudah tidak lagi tersedia di App Store. Padahal Skitch menghadirkan peralatan untuk menambahkan anotasi yang cukup lengkap serta dapat dikustomisasi sesuai dengan keinginan. Terlebih lagi Skitch merupakan aplikasi gratis.

Lalu hadirlah Annotable yang memiliki UI dan UX yang mirip dengan Skitch. Mulai dari ikon tools yang ada hingga cara menambahkannya mirip dengan Skitch.

Annotable pada update terakhirnya sudah mendukung teknologi yang ada di iOS 10 serta iPhone 7 dan 7 Plus. Wide color gamut untuk rentang warna yang lebih lebar dan kaya, haptic feedback di iPhone 7 untuk presisi penambahan anotasi, 3D Touch untuk mempercepat prosesnya dan lain sebagainya.

Fitur lain yang dimiliki oleh Annotable adalah sinkronisasi via iCloud, skema URL untuk interaksi dengan aplikasi lain dan extensions. Untuk menikmati versi lengkap aplikasinya, silakan unlock menggunakan in-app-purchase senilai Rp 149ribu.

Download – App Store – Gratis

Ketiga aplikasi di atas mengambil peranan penting dalam pekerjaan menulis paruh waktu ataupun ngeblog. Menambahkan anotasi dalam screenshot akan jauh mempermudah penyampaian maksud dibandingkan dengan sekedar tulisan saja.

Review: Leaf for Twitter, tampil cantik meski terdapat beberapa fitur yang kurang

Kalau ditanya, aplikasi apa yang paling sering saya coba mungkin jawabannya adalah Twitter client. Ubersocial, Twitteriffic, Tweetbot, Tweetings, Osfoora, Echofon, Flurry, dan masih beberapa lagi adalah aplikasi Twitter yang sudah pernah saya coba. Baru-baru ini saya mencoba aplikasi Twitter baru dengan desain yang cantik bernama Leaf.

Leaf adalah kolaborasi antara developer @iPlop dengan desainer grafis @Surenix. Sebagai desainer grafis yang sudah banyak berkolaborasi dengan banyak pengembang, @Surenix paham betul bagaimana mendesain sebuah aplikasi. Leaf adalah salah satunya. Mari kita bahas apa saja yang dimiliki oleh Leaf.

Desain

Untuk masalah desain, kemampuan @Surenix sudah tidak diragukan lagi. Tampilan Leaf sangat rapi dengan animasi yang menarik untuk dinikmati. Pada bagian atas terdapat logo Leaf dan pada bagian kirinya terdapat tombol untuk melihat profil akun yang sedang aktif. Sama seperti Tweetbot dan Twitterific, terdapat 4 tab di bagian bawah untuk mengakses Timeline, Mentions, DM dan Search.

Tweet yang memiliki media baik itu gambar atau video akan sedikit lebih panjang. Gambar atau video tersebut akan dijadikan background dengan efek gradasi. Tap pada gambar maka akan terbuka secara penuh.

Untuk berinteraksi dengan sebuah tweet, Leaf mengandalkan gesture. Swipe ke kanan untuk membalas sebuah tweet, swipe ke kiri untuk me-retweet, like atau menampilkan detail dari tweet tersebut. Tampilan yang paling menarik dari Leaf justru terdapat pada bagian Direct Messages. Jika aplikasi lain menampilkan pesan baris demi baris, pada Leaf percakapan ditampilkan dengan memilih avatar pada bagian atas aplikasinya. Tinggal swipe ke kanan atau kiri untuk berpindah antar pesan.

Leaf for Twitter adalah aplikasi Twitter baru yang tampil dengan desain cantik dan menawan meski fiturnya kurang lengkap.

Pada bagian atas sebelah kanan dari tab Timeline terdapat sebuah tombol untuk membuat tweet baru. Tap pada tombol tersebut dan tampilan untuk membuat tweet baru akan keluar dari atas. Layaknya aplikasi Twitter lainnya, pada Leaf kamu bisa menambahkan gambar serta lokasi ke dalam tweet.

Dengan desain dan animasi yang cantik, Leaf menghadirkan pengalaman baru dalam bermain Twitter.

Fitur

Leaf membawa fitur standar Twitter ke dalam aplikasinya. Pengelolaan List, mengetahui hashtags apa saja yang sedang trending, dukungan multi akun, push notifications, tweet marker, dan masih ada beberapa lagi. Kalau Tweetbot hanya mengijinkan streaming timeline ketika sedang terkoneksi dengan wifi, Leaf menawarkan opsi untuk streaming lewat koneksi data selular. Tentunya akan lebih memboroskan kuota yang kamu miliki karena tweet akan ditampilkan secara otomatis.

Dukungan multi akun di Leaf sedikit berbeda dengan Tweetbot atau Twitterific. Leaf hanya dapat menggunakan akun Twitter yang sudah kamu atur di aplikasi Settings > Twitter terlebih dahulu. Begitu pula untuk sign out, harus dilakukan dari aplikasi Settings dan bukan dari Leaf.

Leaf for Twitter adalah aplikasi Twitter baru yang tampil dengan desain cantik dan menawan meski fiturnya kurang lengkap.

Leaf mendukung penyimpanan tweet sebagai draft meski hanya terbatas untuk satu tweet saja. Menyimpan tweet lain akan secara otomatis meng-overwrite draft yang sudah tersimpan. Kekurangan Leaf lainnya adalah belum adanya fitur untuk melakukan mute pada username, tweet ataupun hashtags. Aplikasi Leaf sendiri juga baru tersedia untuk iPhone saja.

Kesimpulan

Untuk urusan desain, campur tangan @Surenix dalam membuat Leaf tidak perlu diragukan lagi. Menurut saya untuk urusan desain, Leaf lebih unggul dibandingkan dengan Tweetbot ataupun Twitterific. Namun tidak secara fitur. Untuk power user yang membutuhkan fitur lebih dalam bermain Twitter, Tweetbot masih pilihan terbaik. Meski belum sepenuhnya merekomendasikan Leaf untuk bermain Twitter ketika Tweetbot dan Twitterfic menghadirkan fitur yang lebih lengkap, Leaf merupakan pilihan yang cukup layak dipertimbangkan.

Mencoba aplikasi Starbucks ID

Bagi kamu yang sering ke Starbucks akhir-akhir ini pasti akan mendapati tulisan Scan & Sip. Ya, kini Starbucks sudah memiliki aplikasi yang bisa kamu unduh dari App Store atau Google Play Store. Bagi saya yang tidak suka membawa kartu banyak-banyak dalam dompet, kehadiran aplikasi Starbucks ID seperti ini sangat membantu dan praktis.

Pada dasarnya aplikasi Starbucks ID ini adalah aplikasi untuk mengelola kartu Starbucks yang sudah kamu miliki sebelumnya. Kalau kamu sudah memiliki kartu Starbucks dan mendaftarkannya ke web menggunakan email maka tinggal login saja dalam aplikasi tersebut.

Baca selengkapnya